Empat Operasi Khusus Baret Merah Kopassus, Gempur OPM hingga Duel dengan SAS

Andhika Shaputra
.
Sabtu, 24 September 2022 | 12:00 WIB
Komando Pasukan Khusus (Kopassus) satuan elit TNI AD tak hanya dikenal di tanah air, tapi juga hingga ke mancanegara (Foto: Kopassus.mild.id)

KARANGANYAR,iNewskaranganyar.id - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) satuan elit TNI AD tak hanya dikenal di tanah air, tapi juga hingga ke mancanegara. Kehebatan baret merah ini sudah tak diragukan lagi. Berbagai operasi baik di dalam mapun di luar negeri telah dijalankan. Berikut beberapa operasi Kopassus yang berhasil dijalankan :

1. Pembebasan Sandera di Woyla, Thailand

Pada 1981, lima teroris yang menamakan diri sebagai Komando Jihad membajak sebuah pesawat DC-9 Garuda Indonesia dan menyandera penumpangnya. Pesawat dengan rute Palembang-Medan itu dipaksa terbang menuju Kolombo. Akan tetapi, bahan bakarnya tidak cukup dan mengharuskan pesawat mendarat di Woyla, Thailand.

Kopassus berhasil mengatasi pembajakan setelah empat hari kemudian. Berada di bawah arahan Letkol Infanteri Sintong Panjaitan, Kopassus berhasil bergerak cepat pada 31 Maret 1981 dan membebaskan sanderanya. Meskipun sang pilot, Kapten Herman Rante dan salah satu anggota satuan Para Komando Kopassandha harus gugur.

2. Operasi Dwikora dan Duel dengan SAS

Presiden Soekarno menginstruksikan untuk melakukan operasi Dwikora pada 1963, demi menggagalkan terbentuknya Federasi Malaysia. RPKAD atau yang sekarang disebut Kopassus turut andil dalam operasi ini, dibantu oleh Pasukan Gerak Tjepat (PGT TNI AU).

Tidak hanya bentrok dengan pasukan Malaysia, namun prajurit Indonesia juga harus menghadapi pasukan Inggris yang mengirimkan pasukan elit bernama SAS (Special Air Services) dan Gurkha. Terkadang, pasukan Inggris berhasil mengalahkan prajurit Indonesia. Namun, tak jarang pula pihak Indonesia yang berhasil melibas pasukan lawan itu. Pertempuran berlangsung di hutan Kalimantan. Dari pertempuran di Kalimantan ini, SAS belajar untuk mengembangkan taktik bertempur di hutan.

3. Operasi Penumpasan DI/TII

Pada Januari 1950, TNI AD membentuk Gerakan Banteng Nasional yang bertujuan untuk membumihanguskan gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Kemudian, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No.59 pada 1958. Peraturan ini berisikan rencana Kodam Siliwangi menerapkan taktik ‘Pagar Betis’ guna menghentikan langkah gerakan DI/TII.

Hasil implementasi taktik tersebut adalah keberhasilan TNI mengepung wilayah yang menjadi basis kekuatan DI/TII. Akhirnya Kartosuwiryo yang merupakan pemimpin DI/TII berhasil ditangkap di Gunung Geber.

Halaman : 1 2
Bagikan Artikel Ini