Ini 5 Keistimewaan Meninggal di Hari Kamis Dalam Islam

Ditya Arnanta/Net Karanganyar
.
Kamis, 29 September 2022 | 19:11 WIB
Keistimewaan Meninggal di hari Kamis (Foto: ilustrasi Bincang Syariah)

KARANGANYAR,iNewskaranganyar.id - Umat muslim mempercayai bahwa meninggal di hari kamis mempunyai keistimewaan tersendiri. Seperti dilansir iNewskaranganyar.id dari dalamislam, Keistimewaan meninggal di hari kamis antara lain:

Berikut Keistimewaan Meninggal di hari Kamis

1. Pintu Surga Terbuka

Di dalam islam terdapat 2 hari saat terbukanya pintu surga yaitu hari senin dan hari kamis. Maka beruntunglah bagi umat islam yang meninggal di hari tersebut.

Seperti dalam syahih muslim, Abu hurairah R,A Rasulullah bersabda:

تفتح أبواب الجنة يوم الاثنين ويوم الخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلا كانت بينه وبين أخيه شحناء فيقال: أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا

“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.“ ( Shahih Muslim/IV/1987/Kitabul Birr was Shilah wal Adab)

Maka beruntunglah umat islam yang yang meninggal di hari tersebut.

2. Hari penimbangan amal

Penimbangan amal pada hari senin dan kamis beruntunglah bagi umat islam yang meninggal pada hari tersebut. Hari penimbangan amal dan hari puasa sunah senin dan kamis.

Seperti dalam sabda rasullah:

“amal baik buruk setiap manusia di periksa setiap hari senin dan kamis”

Maka aku menyukai amal perbuatanku di periksa dalam keadaan di hari puasa sunnahku.

Seperti dalam sabda Rasulullah:

“Amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya).

Selain itu Rasulullah SAW juga menganjurkan Umat Muslim berpuasa tiap Senin dan Kamis:

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat antusias dan bersungguh-sunguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis”. (HR. Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Majah, Imam Ahmad)

“Amal-amal manusia diperiksa pada setiap hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)

3. Hari rasulullah menjalankan puasa senin dan kamis
Beruntunglah umat muslim yg meninggal di hari senin dan kamis di mana rasulullah sangat senang dan sangat antusias dengan hari tersebut. Dimana hari yang sangat di nantikan rasulullah untuk menjalan ibadah puasa senin kamis.

Usamah bin Zaid berkata:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ حَتَّى لاَ تَكَادَ تُفْطِرُ وَتُفْطِرُ حَتَّى لاَ تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلاَّ يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلاَ فِى صِيَامِكَ وَإِلاَّ صُمْتَهُمَا. قَالَ « أَىُّ يَوْمَيْنِ ». قُلْتُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ. قَالَ « ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ »

“Aku berkata pada Rasulullah ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, engkau terlihat berpuasa sampai-sampai dikira tidak ada waktu bagimu untuk tidak puasa. Engkau juga terlihat tidak puasa, sampai-sampai dikira engkau tidak pernah puasa. Kecuali dua hari yang engkau bertemu dengannya dan berpuasa ketika itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambertanya, “Apa dua hari tersebut?” Usamah menjawab, “Senin dan Kamis.”

Lalu beliau bersabda, “Dua hari tersebut adalah waktu dihadapkannya amalan pada Rabb semesta alam (pada Allah) Aku sangat suka ketika amalanku dihadapkan sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ahmad 5: 201. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan

Hadits dari Siti A’isyah:

Beliau berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis.” (Sunan Tirmidzi/III/121-Sunan an-Nasai/IV/202-Sunan Ibnu Majah/I/553-Musnad Imam Ahmad/VI/106.

Halaman : 1 2
Bagikan Artikel Ini