SUKOHARJO, iNewskaranganyar.id – Industri tekstil di Sukoharjo mengalami pukulan berat dengan tutupnya PT Sri Rejeki Isman (Sritex) Tbk. Perusahaan yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah tersebut resmi menghentikan operasionalnya pada 1 Maret 2025, mengakibatkan 8.475 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak 26 Februari 2025.
Hari terakhir operasional pabrik, Jumat (28/2/2025) dipenuhi suasana haru. Sejumlah pekerja terlihat mengabadikan momen dengan berfoto di depan patung pendiri Sritex, HM Lukminto, sementara yang lain merekam video sebagai kenang-kenangan. Raut wajah sedih dan perpisahan emosional tampak di antara mereka yang telah bekerja bertahun-tahun di perusahaan tersebut.
Keputusan PHK ini diambil setelah tim kurator berdiskusi dengan manajemen Sritex. Sekretaris Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Sritex, Andreas Sugiyono, menegaskan bahwa hak-hak pekerja harus tetap dipenuhi meskipun perusahaan mengalami kesulitan finansial.
"Kami berharap hak-hak pekerja, termasuk pesangon dan uang jasa, tetap diberikan. Namun, kami masih menunggu keputusan sidang di Semarang untuk kejelasan lebih lanjut," ujar Andreas pada Jumat (28/2/2025).
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo, Sumarno, menjelaskan bahwa para pekerja telah menandatangani surat pernyataan menerima PHK sebagai syarat pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, pekerja yang terdampak juga mendapatkan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), berupa bantuan tunai sebesar 60 persen dari gaji maksimal selama enam bulan, dengan syarat aktif mencari pekerjaan baru.
Terkait pencairan pesangon, Sumarno menegaskan bahwa prosesnya berada di bawah wewenang tim kurator yang ditunjuk oleh Pengadilan Niaga Semarang. Saat ini, tim kurator tengah melakukan verifikasi piutang dan pemberesan aset perusahaan.
Dengan berakhirnya perjalanan Sritex, ribuan pekerja kini dihadapkan pada ketidakpastian masa depan. Banyak di antara mereka yang harus mencari sumber penghidupan baru, sementara Sukoharjo kehilangan salah satu industri besar yang telah lama menjadi kebanggaan daerah.
Editor : Lituhayu
Artikel Terkait